Rabu, 12 September 2012

copas fb

5 REKRUTAN AREMA YANG BERMASALAH

Usai membaca cerita pemain Arema yang pindah di
klub lain yang mengegerkan. Kali ini redaksi
membuka ingatan nawak-nawak tentang pemain-
pemain rekrutan Arema yang bermasalah dalam
Cerita Saga Transfer Arema Bagian Kedua. Tidak setiap rekrutmen pemain Arema berlangsung
dalam kondisi sukses. Ada beberapa rekrutmen
pemain yang sempat mengundang kontroversi
karena berbagai sebab. Jika sudah seperti ini, tidak
hanya klub saja yang dirugikan namun juga para
pemainnya. Kali ini Akan Dibahas beberapa rekrutmen pemain
Arema yang sempat bermasalah. =============
1) BEJO SUGIANTORO
Salah satu pemain Timnas Primavera ini pernah
bermain bersama Persebaya dan PSPS Pekanbaru. Di
PSPS Ia bergabung selama 2 musim dari tahun
2002-2003 setelah melewati berbagai kesuksesan
bersama Persebaya, termasuk gelar Liga Indonesia
1996/1997 dan Runner Up 2 tahun kemudian. Karirnya bersama PSPS tak terbilang sukses. Musim
pertama PSPS gagal melaju ke babak 8 besar meski
sudah mengeluarkan dana berlimpah. Hal yang sama
diulangi musim sesudahnya meski sudah
mengkoleksi pemain bintang. Di musim ini karir Bejo
Sugiantoro bersama Hendro Kartiko dan Aples Tecuari sempat mandeg akibat skorsing 1 tahun dari
PSSI karena terlibat insiden pemukulan wasit
Subandi. Selepas menjalani skorsing 1 tahunnya, Bejo
Sugiantoro terlibat dalam proses rekrutmen
kontroversial bersama Arema dan Persebaya. Kala itu
kesepakatan prakontrak antara Bejo Sugiantoro dan
Arema telah disepakati. Pencairan pertama uang
muka kontrak sebesar 10juta rupiah juga sudah dikirimkan. Namun tidak selang berapa lama
Persebaya ikut campur dalam saga rekrutmen Bejo
Sugiantoro. Akibatnya dualisme kontrak terjadi. Karena yang terlibat adalah dua klub besar yang
sudah lama berseteru(Arema dan Persebaya), alhasil
terjadi tarik ulur mengenai proses rekrutmen Bejo
Sugiantoro. Gosip yang beredar Arema sanggup
menawarkan kontrak sebesar 300-325juta rupiah
setahun atau lebih mahal daripada rivalnya, Persebaya. Sumber lain menyebutkan bahwa ikatan
yang terjadi antara Bejo Sugiantoro bersama Arema
bukanlah prakontrak namun sudah ada deal
kontrak resmi sesuai dengan standar aturan PSSI
kala itu. Meski begitu tak sekalipun Bejo Sugiantoro terlibat
dalam persiapan tim Arema. Kasus ini pula sampai
menimbulkan perhatian besar baik di kalangan
suporter maupun media massa. Salah satu group
media massa terbesar di Jawa Timur sempat terlibat
persaingan 'tak resmi' dengan menyajikan porsi pemberitaan seputar Bejo Sugiantoro dari dua sudut
yang berbeda. Kasus ini akhirnya diselesaikan setelah K.H. Hasyim
Muzadi, Ketua Umum PB NU kala itu sekaligus
pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam
menjadi wasit dalam pertemuan yang melibatkan
kedua pihak. Disepakati bahwa Bejo Sugiantoro
akhirnya menjadi pemain Persebaya, dan Ketua Harian Persebaya kala itu Alm. H. Santo meminta maaf
kepada perwakilan Arema, Darjoto Setiawan, Satriya
B.W. dan Alm. Gandi Yogatama beserta Aremania atas
kelakuan Bejo, Hendro dan Persebaya pada
pertemuan ayng diselenggarakan 12 November
2003.
2) HENDRO KARTIKO
Sama halnya dengan Bejo Sugiantoro, Hendro
Kartiko libat dalam saga rekrutmen yang rumit dan
melibatkan dua klub terbesar di Jawa Timur, Arema
dan Persebaya. Hendro Kartiko di Liga Indonesia 2002 membela
PSPS Pekanbaru dan terkena sanksi skorsing akibat
pemukulan wasit Subandi bersama Bejo dan Aples
Tecuari. Karirnya bersama PSPS akhirnya mandeg,
begitu juga peluangnya untuk membela Timnas
Indonesia.Selama menjalani skorsing ia ikut berlatih bersama Arema yang kala itu, pada tahun 2003
dilatih oleh Henk Wullems sebagai pelatih utama. Seperti yang kita ketahui bersama Hendro Kartiko di
akhir tahun 2003 terlibat dualisme kontrak karena
Arema dan Persebaya sama-sama mengklaim status
kepemilikan pemain yang beristrikan wong Ngalam
tersebut. Hendro Kartiko disebut-sebut sudah
menerima pembayaran uang muka kontrak sebesar 10juta rupiah dari Arema, dengan nilai kontrak
hampir sama dengan Bejo Sugiantoro sekaligus lebih
besar daripada yang ditawarkan Persebaya. Pada akhirnya Arema terpaksa merelakan kepergian
Hendro Kartiko bersama Persebaya selepas
pertemuan di Ponpes Mahasiswa Al Hikam yang
dimediasi Ketua Umum PB NU kala itu, K.H. Hasyim
Muzadi.
3) MARTHEN TAO
Ada beberapa persamaan yang terjadi dalam kasus
dualisme kontrak yang mendera Marthen Tao, Bejo
Sugiantoro dan Hendro Kartiko yang melibatkan
Arema. Diantaranya terjadi bersamaan menjelang
musim Liga Indonesia 2004, pembayaran Down
Payment kontrak dari Arema kepada sang pemain sekaligus keberanian Arema dalam
memperjuangkan haknya mengingat yang menjadi
rivalnya baik Persebaya dan PKT merupakan klub
Divisi Utama, sedangkan Arema kala itu harus
berkutat di Divisi 1. Barangkali yang menjadi pembeda, jika Bejo
Sugiantoro dan Hendro Kartiko gagal berlabuh di
Arema, maka Marthen Tao menjadi pembeda. Ia
akhirnya sukses direngkuh Arema meski harus
menguras kesabaran yang tidak sebentar. Hingga batas akhir pendaftaran pemain untuk
Kompetisi Divisi Utama dan Divisi 1, kedua klub masih
ngotot mendaftarkan Marthen Tao. Akibatnya
Direktur Status, Alih Status dan dan Transfer Pemain
PSSI, Barry Sihotang memasukkan Marthen Tao
kedalam daftar cekal. Akibatnya Marthen dilarang memperkuat dan berkompetisi bersama klub
sepakbola Indonesia manapun selama belum ada
kejelasan menyangkut dualisme kontrak. Selama
paruh pertama musim kompetisi baik Arema dan PKT
Bontang tidak dapat menggunakan tenaga Marthen
untuk mengikuti kompetisi. Status Marthen akhirnya terjawab setelah Komisi
Disiplin PSSI menggelar sidang dan memastikan
Marthen Tao menjadi milik Arema pada 25 Maret
2004. Ketua komdis PSSI Togar Manahan Nero dalam
konferensi persnya kala itu mengatakan, pemain
asal Papua tersebut diputuskan telah menjadi pemain Arema dengan berbagai pertimbangan.
Salah satunya, keinginan kuat pemain tersebut
untuk memperkuat klub berjuluk Singo Edan
tersebut.

4) GERRARD AMBASA GUY

Ambassa Guy merupakan satu diantara tiga pemain
asing Arema yang dikontrak pada Putaran II
kompetisi Liga Indonesia 2007 lalu bersama Emile
Mbamba dan Tarikh El Janaby. Pemain kelahiran
Kamerun yang membela Tim Nasional Hong Kong ini
sempat memiliki masalah dengan Arema berkaitan dengan status kontraknya. Kala itu kepindahan Gerard Ambassa Guy dari Happy
Valley Hong Kong ke Arema gagal terlaksana karena
status Gerard bukanlah free transfer seperti yang
diutarakan agennya. Ambassa Guy masih terikat
kontrak dengan Happy Valley dan FIFA sendiri
akhirnya tidak dapat menerbitkan ITC(International Transfer Certificate) kepadanya sesuai dengan
request dari klub lamanya.

5) EROL FX IBA DAN SONI KURNIAWAN

Pramusim Liga Indonesia 2004 bagi Arema diwarnai
kejadian yang penuh mendebarkan. Bagaimana
tidak, hampir 30 pemain yang dikontrak untuk
kebutuhan tim menyongsong Liga Indonesia 2004,
hampir seperlimanya bermasalah dalam kontrak.
Jika Hendro Kartiko dan Bejo Sugiantoro menjadi bagian dari cerita bad ending Arema kala itu, dan
Marthen Tao menjadi bagian dari sekuel kedua Saga
Rekrutmen Arema musim 2004, maka kejadian yang
menimpa Erol FX Iba dan Sonny Kurniawan berakhir
dengan ending yang baik untuk Arema. Erol FX Iba maupun Sonny Kurniawan berasal dari
klub yang sama, PSPS Pekanbaru di Liga Indonesia
2003. Permasalahan terjadi tatkala kepindahan
keduanya ke Arema dipermasalahkan oleh klub
lamanya, PSPS Pekanbaru. Tim asal Provinsi Riau tersebut menyatakan jika
keduanya telah terikat kontrak dan masuk sebagai
list pemain PSPS untuk Liga Indonesia 2004. Tidak
tinggal diam, manajemen Arema memanggil
keduanya untuk menjelaskan permasalahan yang
terjadi. Untuk menanggulangi hal-hal yang diinginkan Arema juga berkonsultasi dengan PSSI
mengenai ikatan perjanjian kontrak yang dilakukan
oleh kedua pemain tersebut dengan Arema maupun
klub lamanya. Pada akhirnya diketahui bahwa ikatan kontrak
antara Erol FX Iba dan Sonny Kurniawan sah dengan
Arema. Dari pihak PSSI pun mengesahkan kedua
wingback tersebut untuk menjadi bagian tim Arema.

Tidak ada komentar: